Avesiar – Palestina
Mencermati siklus kekerasan baru-baru ini antara Palestina dan Israel, dalam ulasan yang dilansir TRT World, Rabu (20/4/2022), setidaknya 152 warga Palestina terluka di Al Aqsa Yerusalem pada Jumat (15/4/2022), ketika pasukan Israel memblokir beberapa kegiatan ibadah bangsa Palestina di awal bulan suci Ramadhan.
Kedua belah pihak telah menyaksikan peningkatan kekerasan selama sebulan terakhir, dengan pasukan Israel meningkatkan penangkapan dan penggerebekan di Tepi Barat yang diduduki dan warga Palestina menyerang kota-kota Israel.
Yerusalem telah menjadi tempat konfrontasi kekerasan antara Palestina dan Yahudi selama 100 tahun.
Tahun lalu, serangan kekerasan di kompleks itu merupakan salah satu pemicu pemboman 11 hari di Gaza, yang mengakibatkan kematian sedikitnya 232 warga Palestina, termasuk 65 anak-anak, dan 12 warga Israel, termasuk dua anak-anak.
TRT World melihat mengapa kompleks Masjid Al Aqsa menjadi titik nyala konflik Israel-Palestina.

Episentrum konflik Timur Tengah
Masjid ini adalah rumah bagi Kubah Batu Emas, yang oleh umat Islam disebut sebagai Tempat Suci, sementara orang Yahudi menyebutnya sebagai Bukit Bait Suci.
Sebagai bagian dari kesepahaman antara negara tetangga Yordania dan Israel, Yordania berfungsi sebagai penjaga situs, yang dioperasikan oleh wakaf Islam.
Hanya Muslim yang bisa berdoa di dalam, dan hanya orang Yahudi di Tembok Barat. Otoritas Israel bertanggung jawab atas keamanan pada Masjid tersebut.
Serangan Israel
Selama bertahun-tahun orang Israel telah melanggar pengaturan yang disepakati pada tahun 1967 oleh Israel, Yordania, dan otoritas Islam, serta telah mengunjungi kompleks dalam jumlah yang lebih besar dan mengadakan ibadah yang bertentangan dengan perjanjian tersebut.
Bangsa Palestina memandang kunjungan yang dikawal polisi itu sebagai provokasi yang kerap memicu kekerasan serius. Beberapa orang Israel mengatakan situs itu harus terbuka untuk semua jemaah.
Pada Senin (18/4/2022), Raja Yordania Abdullah mengatakan bahwa tindakan sepihak yang dilakukan Israel di Masjid Al Aqsa Yerusalem merusak prospek perdamaian di wilayah tersebut.
Berbicara dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, raja Abdullah mengatakan bahwa tindakan provokatif Israel di kompleks Masjid melanggar status quo hukum dan sejarah dari tempat-tempat suci umat Islam.
Monarki Hashemite dari Raja Abdullah telah menjadi penjaga situs-situs tersebut sejak 1924, membayar pemeliharaan dan restorasi tempat itu.
Kapan serangan Israel dimulai?
Data yang dimiliki TRT World menyatakan, serangan dimulai pada tahun 1967, segera setelah Jordan mulai berperan sebagai penjaga situs. Pada tahun yang sama, Jenderal Mordechai Gur, wakil menteri pertahanan Israel, merebut Bukit Bait Suci Yerusalem untuk Israel.
Pada hari ketiga perang 1967, Gur mengibarkan bendera Israel dari Kubah Batu, membakar salinan Al-Qur’an dan melarang jemaah shalat di Masjid Al Aqsa.
Pada tahun 2000, pasukan keamanan Israel membunuh dan melukai puluhan jemaah di Masjid Al Aqsa melalui tangan Ariel Sharon, seorang jenderal Israel yang menjabat sebagai Perdana Menteri Israel ke-11 dari Maret 2001 hingga April 2006, menyerbu Masjid Al Aqsa disertai dengan kehadiran keamanan yang ketat.
Hal itu memicu Intifada (pemberontakan) kedua, pemberontakan selama lima tahun yang menewaskan ribuan orang Palestina.
Setelah Intifada kedua, Israel mencabut otoritas eksklusif Wakaf untuk mengatur akses jemaah Muslim dan pengunjung non-Muslim.
Sejak itu, serangan Israel dimulai setiap hari dalam bentuk tur yang dilindungi oleh polisi mereka.
Pada 2017, warga Palestina mengadakan Hari Kemarahan di luar Masjid ketika mereka dilarang shalat di dalam untuk kedua kalinya.
Sedikitnya empat orang tewas dalam bentrokan tersebut. Pada tahun yang sama, Israel melepaskan detektor logam dari gerbang Masjid setelah kemarahan terhadap instalasi dari umat Islam di seluruh dunia. Namun, kamera CCTV tetap berada di kompleks, dengan tetap melanggar status quo.
Apa yang ditakuti orang Palestina?
Palestina mengatakan serangan Israel dimaksudkan untuk membagi Masjid antara Muslim dan Yahudi, mirip dengan pembagian Masjid Ibrahimi di Hebron pada 1990-an.
Untuk mengakhiri serangan Israel, orang-orang Palestina secara teratur mengorganisir dan melakukan Ribat, sebuah kegiatan duduk berjam-jam dan berhari-hari di Masjid untuk mencegah orang Israel memasukinya.
Pada 17 April 2022, lebih dari 700 pemukim Israel memaksa masuk ke kompleks untuk merayakan liburan Paskah Yahudi selama seminggu. Pada 18 April 2022, 561 pemukim menyerbu lokasi titik api di bawah perlindungan ketat polisi, kata Departemen Wakaf Islam di Yerusalem. (ard)













Discussion about this post