• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen (4 – Habis), Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku

by Avesiar
4 Desember 2022 | 05:00 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 5 mins read
A A
Cerpen (Bagian 1), Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku

Ilustrasi. Foto: Pexels

Avesiar.com

Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku

Karya: Aqsha Rizad Ibrahim (Siswa kelas XI Mia 1, Medan, Sumatera Utara)

Bagaimana bisa aku merasa kalau aku mendengar suara Aleesha, mendatangi kamarnya, menemuinya ketika ia terbangun karena mimpi buruk, sedikit berbicara dengannya, dan mengusap kepalanya. Apa yang sebenarnya aku lakukan ketika aku terbangun malam itu? Bahkan Aleesha juga mengetahui aku sempat terbangun dan terdengar gaduh di kamarku.

“Hei, kenapa kau ini? Aku bertanya kenapa diam saja?” tanyanya.

“Emm, euh, ti…dak. Aku hanya terbangun karena mimpi buruk, ditambah lagi teriakan itu. Aku sedikit panik saat itu, konyol bukan?” aku berusaha mencari topik pembicaraan lain.

“Ahahahah ternyata abang penakut juga ya.”

“Hei, siapa yang tidak panik ketika di saat seperti itu? Kau hanya beruntung karena tidak mendapat mimpi buruk.”

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

“Sama saja. Apapun alasannya, abang penakut, weeeekk.” ejeknya.

“Hei awas saja. Biasanya yang begitu bakal kejadian balik sama yang ngejek.”

“Biar saja. Yang penakut kan abang, bukan aku. Hahahaahhaahah.”

“Awas saja ya Aleesha.”

Aku menyadari bahwa kentang yang kubutuhkan tinggal sedikit. Aku sudah membelinya tapi sepertinya masih tergeletak di meja kamarku. Aku pun mengambil kentang itu ke kamarku.

“

Sebentar ya, aku mau ambil kentang. Ini masih kurang. Aku pergi sebentar. Hati-hati dengan pisaumu itu.”

“Ayolah, aku tidak penakut sepertimu. Dan aku sudah besar, aku tahu cara menggunakan pisau.”

“Aku hanya mengingatkan, kenapa tidak terima saja sih saat diingatkan.”

Aku pun mengambil kentang ke kamarku, mengecek hp-ku kalau-kalau ada notifikasi penting, kemudian kembali ke dapur. Ketika aku berjalan di lorong, tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing. Aku mulai berpikir kalau ini adalah efek tidurku yang terlalu sore tadi. Namun, detik berikutnya aku didorong oleh sesuatu yang entah darimana. Pandanganku gelap seketika. Aku terus berusaha untuk berdiri dan kembali berjalan menuju dapur.

“Aeden.. Kau masih ingat denganku? Hahahaahahahahahah.” terdengar suara amat berat yang tentu saja aku tahu itu berasal dari siapa.

“Hahaha, tenang saja. Aku tidak akan mengganggumu kali ini.” Sambungnya.

Sontak, akupun berlari ke dapur – dengan rasa pusing yang masih menyelimuti kepalaku – dan menemukan Aleesha berdiri dengan pisau bekas memotong kofte di tangan kanannya, sedang menatap kerahku dengan sangat tajam, tanpa berkata sedikitpun. Aleesha kemudian berbicara, namun bukan dengan suaranya.

“Aeden, kau harus menerima kenyataannya aeden. Segala sesuatu yang kau perbuat pasti akan ada ganjarannya.”

“Hei, keluarlah dari Aleesha! Dia tidak bersalah.” Bentakku.

Aleesha – atas kendali makhluk itu – perlahan mengangkat pisaunya dan mengarahkannya ke lehernya sendiri. Melihat itu, aku pun berlari sekaligus melompat ke arahnya, memukul tangannya untuk menjauhkan pisau itu, kemudian sembari mendekap erat Aleesha tepat ketika aku jatuh.

“Aleesha, sadarlah!”

Ia kemudian memberontak, mendorongku balik, dan cepat mengambil kembali pisau tadi serta langsung mengarahkannya ke pergelangan tangan kirinya. Aku kemudian melompat lagi ke arahnya lalu memegangi tangannya dengan sangat-sangat erat, menahannya agar dia tidak melakukan itu.

“Aleesha.., SADARLAH!”

Tenaganya mendadak menjadi sangat kuat sehingga sangat sulit bagiku untuk terus menahannya.

“Hei, Hentikan semuanya. Dia tidak bersalah dalam hal ini!” ucapku pada makhluk itu.

“Tapi kau harus menerimanya, Aeden. Lihatlah, ini semua adalah kesalahanmu.”

“Kenapa kau tidak menjelaskan padaku terlebih dulu? Kenapa kau langsung melakukan ini hah?!”

“Kau sangat membenci Ibumu. Itu yang kau rasakan bukan? Jujur saja! Kau sungguh sangat membencinya sampai kau tidak lagi mau mengingat tentangnya. Mungkin itu bukan masalah yang begitu besar, tapi lihatlah! Bagaimana kau begitu menyayangi Aleesha. Kau menyayangi Aleesha sementara kau membenci Ibumu, yang juga merupakan Ibu dari Alessha, ironi bukan? Kalau kau begitu membenci Ibumu dan kau menghapus semua memori tentangnya, maka Aleesha juga tidak akan pernah bisa ada dalam kehidupanmu. Kau tidak bisa begitu Aeden! Rasa bersalahmu akan ketakutanmu terkait gagalnya menjaga Aleesha hanya akan memperburuk posisimu. Kau tidak boleh begitu Aeden!”

Aku terdiam seketika. Semua yang dia katakan benar dan nyata adanya. Aku juga berpikir bahwa aku sejahat itu. Aleesha bisa saja terbunuh karena kesalahanku yang terbentuk dari masa lalu. Aku juga berpikir bahwa aku sangat jahat.

Aku begitu membenci Ibu sampai aku melupakan semua tentangnya, bahkan hal baik darinya. Bagaimanapun dia adalah Ibuku, orang yang melahirkanku dan juga Aleesha. Aku tidak bisa menahan tangisku.

“Ya aku akui, aku bersalah. Tapi aku mohon jangan lukai Aleesha. Kalau kau benar-benar mau melakukannya, lakukan saja kepadaku. Aku mohon,” ucapku.

“Hahahaha, dramatis sekali. Tapi sayangnya kau melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu. Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Aeden. Kau…”

Belum selesai ia berbicara, aku mengambil sedikit kesempatan untuk mencoba menyadarkan Aleesha.

“Bismillahi Allahu Akbar! ALEESHA, SADARLAH!!!” teriakku.

Syukur, Aleesha pun akhirnya tersadar walaupun ia langsung pingsan di pangkuanku. Makhluk itu melompat dan terbang ke dinding dapur. Dia terlihat sangat marah.

“Kau beruntung kali ini, karena berhasil mendapatkan kesadarannya. Namun, selama kau masih terus melakukan kesalahanmu, aku bisa kembali sewaktu-waktu, dan bukan tidak mungkin aku bisa menjadi lebih kuat,” ujarnya.

Aku mulai menyadari bahwa aku tidak bisa membenci Ibuku sampai sebegitunya. Aku harus mengubah pandanganku terhadap Ibuku dan terhadap diriku sendiri. Tidak baik juga terus-menerus menyalahkan diri sendiri, karena hal itu hanya akan berujung sia-sia.

Kesalahan yang telah kuperbuat, aku juga harus menanggung konsekuensinya, sekalipun yang harus mengalaminya adalah orang yang paling kusayang. Aku salah, aku terlalu egois selama ini. Setelah semua ini aku harus merubah semuanya agar aku tidak kehilangan orang yang paling kusayang saat ini, Aleesha.

“Ingat Aeden, kau belum sepenuhnya merubah pandanganmu. Belum sepenuhnya.”

-TAMAT-

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen KehidupanCerpen ReligiCerpen Remaja
ShareTweetSendShare
Previous Post

Legenda Bola Brasil, Pele 82 Tahun, Dalam Perawatan Paliatif Usai Perawatan Kemoterapi

Next Post

Gunung Api Semeru Level “Awas”, Cermati Tingkat Aktivitas dan Rekomendasi Berikut

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Gunung Api Semeru Level “Awas”, Cermati Tingkat Aktivitas dan Rekomendasi Berikut

Gunung Api Semeru Level “Awas”, Cermati Tingkat Aktivitas dan Rekomendasi Berikut

Bekerja Sama dengan Mata-mata Israel, Empat Pria Dieksekusi Pemerintah Iran

Bekerja Sama dengan Mata-mata Israel, Empat Pria Dieksekusi Pemerintah Iran

Discussion about this post

TERKINI

Budiyanto Darmastono “The Pioneer Minded”, Bos Kurir SAP Ekspres yang Terapkan IT Terdepan untuk COD

3 Juni 2026

Membuminya Endang Rosawati, Eks Corsec BNI Syariah Kini CEO Taha Institute, Edukasi Keuangan Syariah

2 Juni 2026

Kolumbia Gelar Pilpres yang Diikuti 10 Kandidat dan Lebih Dari 40 Juta Warga di Tengah Polarisasi

1 Juni 2026

Laporan Tes Kognitif Trump Dibahas Analis Medis CNN

31 Mei 2026

Jemaah Haji per 1 Juni Bertahap Kembali ke Indonesia Usai Ditutup Rangkaian Ibadah di Armuzna

31 Mei 2026

Minuman-minuman Favorit yang Menurut Studi Membuat Risiko Demensia Lebih Rendah

30 Mei 2026

Konsep Pria Alfa atau Alpha Male, Memahami serta Kontroversi dan Alternatif Maskulin Sehat

30 Mei 2026

Risiko Pertumpahan Darah Besar Jika AS Lakukan Agresi Militer Terhadap Kuba Demi Kedaulatannya

29 Mei 2026

Kunci Bahagia Rumah Tangga dan Pola Komunikasinya dalam Islam

29 Mei 2026

Uranium yang Diperkaya Iran Bukan Bagian dari Negosiasi, Sebut AS-Israel Tetap Niat Menggulingkan Negaranya

28 Mei 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video