KAMU KUAT – Jakarta
“Haii, lama gak ketemu. Kamu kok tambah hitam, trus kamu juga gemukan ya.”
Eitsss…. Sadar gak sih kalau sebenarnya itu adalah bullying verbal atau sejenis bullying yang melibatkan penggunaan kata-kata untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi seseorang.
Bullying itu adalah perilaku agresif yang berulang, disengaja, dan memiliki tujuan untuk menyakiti, merendahkan, atau mendominasi orang lain secara emosional, fisik, atau mental. Tindakan bullying bisa terjadi dalam berbagai konteks, seperti di sekolah, lingkungan masyarakat, bahkan keluarga.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), bullying atau perundungan, adalah penindasan atau risak (merunduk) yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau sekelompok yang lebih kuat.
Kasus bullying yang sering terjadi di lingkungan masyarakat, keluarga, bahkan sekolah, telah menyebabkan banyak dampak. Baik dampak ringan bagi korbannya, hingga yang berat/fatal seperti yang sering diberitakan atau beredar di sosial media. Namun terkadang kita tanpa sengaja membenarkan adanya hal tersebut.
Dikutip dari Alodokter, Senin (2/12/2024), seseorang yang mendapat perundungan atau bully tidak hanya menimbulkan luka atau cedera fisik, korban bullying juga sering kali akan mengalami berbagai masalah psikologis, seperti luka batin, cemas, gelisah, sering mengalami mimpi buruk, sulit percaya dengan orang lain (trust issue), depresi, hingga menyakiti diri sendiri, atau bahkan lebih fatal lagi.
Penyebab bullying bisa terjadi karena:
• Pernah melihat orang lain melakukan kekerasan
• Kesalahan pola asuh keluarga yang terlalu keras
• Pengaruh game yang dimainkan
• Pernah menjadi menjadi korban bully
• Kurang mendapatkan perhatian dari keluarga dan orang di sekitarnya
• Ingin memiliki kekuasaan dan memegang kendali
• Ingin dianggap populer
• Kurang edukasi dan empati
• Supaya bisa berbaur dan berteman
Menanggapi soal bullying, Arka Razzaq Hermawan, siswa kelas 10 SMK Kehutanan Bakti Rimba Bogor, punya komentar tersendiri. Ia mengakui ketika masih SMP ada salah satu temannya yang selalu mengolok-olok dia dengan sebutan cungkring (kurus, red).
“Waktu aku SMP, aku punya teman yang suka becanda bilang aku cungkring, kurang gizi. Tapi aku biasa aja ngga marah, karena aku pikir cuman becanda,” ujar Arka yang mendapatkan bullying secara verbal berbalut kata becanda sampai dia lulus SMP.

Beda halnya dengan Jenedine Saydali Hilmy, siswa SMP Dinar Islamic School kelas 9. Lajang yang hobi menulis ini punya pengalaman tersendiri.
“Saya sendiri pernah melihat sendiri korban bullying. Pandangan saya tentang bullying itu adalah salah satu cara merusak mental seseorang tanpa disadari akan ada dampak yang ditimbulkan. Juga bisa bikin si anak yang di-bully ngerasa ngga guna dan banyak juga kasus bundir karna ngga kuat di-bully. Intinya bullying itu bahaya,” komentar Hilmy.

Pendapat lainnya disampaikan Winona Utomo, siswi SMAN 2 Tangsel, kelas XI. Menurutnya, bullying merupakan kegiatan yang hanya memuaskan satu pihak, di mana satu pihak lainnya akan dirugikan. Bullying adalah hal negatif, yang hanya bertugas untuk merendahkan maupun menyakiti manusia.
“Hal bullying tersebut mendominasi orang lain secara emosional, mental, maupun fisik. Bullying merupakan hal yang menurut saya tidak ada manfaatnya, bahkan untuk pelakunya sendiri. Walaupun bullying dapat memuaskan pelaku, namun rasa puas tersebut hanya sesaat. Selanjutnya akan dinilai dengan stigma-stigma negatif oleh masyarakat sekitarnya,” ucap Winona.

Ada orang bilang, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Maka dari itu, sebelum bullying terjadi, kita bisa mempersiapkan banyak hal. Segala macam cara dapat kita lakukan, salah satunya adalah mengembangkan potensi dan bakat positif yang ada di dalam diri kita.
Untuk apa?
Dengan cara kita mengembakan bakat-bakat yang ada di dalam diri kita, kita dapat membuktikan ke orang-orang bahwa kita mempunyai value (nilai). Hal tersebut dapat membuat pelaku bullying berpikir dua kali untuk melakukan tindakan bullying.
Dengan kepercayaan diri yang kita miliki juga, hal itu bisa menciptakan sebuah karakter di dalam diri kita. Sehingga jika memang ada yang tidak suka dengan kita, kita tidak akan terfokus dengan ucapan-ucapan negatif dari orang lain.
Peranan dari orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar, berperan penting dalam meminimalisasikan terjadinya bullying dan dapat mencegah hal tersebut terjadi
Jenedine Saydali Hilmy punya saran khusus. “Jika kita mempunyai masalah, maka harus siap menghadapinya. Bukan sebaliknya, lari dari kenyataan dan melampiaskan kekesalan, serta kesalahan kita kepada orang lain. Sedangkan untuk para korban, kamu tidak sendiri kamu harus bisa berdiri kuat melawan ketakutanmu. Kamu kuat, kamu harus berani,” katanya berpesan.
Komentar Guru
Komentar dari pengelola sekolah dan tenaga pendidik disampaikan Kepala SMP Budi Mulia Dua Bintaro Iin Mirna Fathima S.T., M.Pd. Menurutnya, jika di lingkungan sekolah terjadi kasus bullying, seharusnya segera melapor guru untuk mencari solusi. Bagaimapun anak akan merasa tidak nyaman serta tidak aman.
“Bullying terjadi karena korban merasa tidak percaya diri dan berharga. Sehingga mempersilahkan orang lain untuk menyakiti diri kita. Tidak hanya itu, kepercayaan di diri anak tersebut serta kepercayaan terhadap lingkungan sekitar harus dibangun. Seharusnya siswa tersebut berani membela dan mempertahankan diri,” tuturnya.
Ia menambahkan, bahwa tugas dan peranan orang tua, serta pendidik di sekolah, salah satunya adalah menguatkan, bahwa hidup kita berharga, diri kita berharga, apapun kondisi yang Allah berikan sekarang, harus bersyukur dan jangan pernah menyerah. Semua manusia itu berharga, bernilai dan terbaik di hadapan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Semangat terus!! Semua orang percaya dengan diri kamu! Kamu kuat karena telah berani dan tegar melewati hal-hal seperti itu dan melawannya. (rst)













Discussion about this post