Avesiar – Cerpen dan Puisi
Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 2)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Di sisi lain, Aisyah pun melangkah pulang dengan hati yang sedikit berbeda malam itu. Ia tak tahu mengapa, tapi ada sesuatu yang berubah. Seperti ada doa yang bersilangan di udara, menggantung tanpa jawaban. Belum saatnya.
Di mihrab cinta ini, mereka belum tahu bahwa takdir perlahan sedang bertaut. Dalam doa yang masih samar, dalam harapan yang masih mengendap di lubuk hati masing-masing. Hanya Allah yang tahu ke mana hati mereka akan berlabuh.
Persimpangan Hati di Mihrab-Nya
Langit senja mulai meredup saat Rafi melangkahkan kakinya menuju masjid kecil di pinggiran kota. Hembusan angin sore membawa ketenangan yang berbeda dari biasanya. Dulu, langkahnya tak pernah terarah ke tempat ini. Namun, kini masjid ini menjadi pelabuhan hatinya, tempat ia menemukan ketenangan setelah bertahun-tahun larut dalam dunia yang penuh kesia-siaan.
Setiap hari, ia duduk di saf belakang setelah shalat, menyimak kajian yang disampaikan oleh Ustadz Salman. Ia mulai menemukan makna hidup yang sebenarnya dalam ayat-ayat suci yang selama ini hanya menjadi bacaan tanpa makna baginya.
Rafi juga mulai terbiasa bertanya kepada ustadz tentang hal-hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan—tentang keikhlasan, tentang taubat, tentang bagaimana mencintai Allah lebih dari mencintai dunia.
Di antara para jamaah, ada satu sosok yang selalu menarik perhatiannya. Aisyah. Ia bukan perempuan yang menonjol dalam keramaian, tetapi justru keteduhannya yang membuat Rafi diam-diam merasa kagum.
Aisyah selalu tampak sibuk mengajar anak-anak mengaji, suaranya lembut saat membimbing mereka melafalkan ayat-ayat suci. Ada ketulusan dalam caranya tersenyum kepada para santri kecilnya, ada keikhlasan dalam setiap langkahnya.
Namun, Rafi sadar. Ia bukan siapa-siapa dibandingkan Aisyah. Ia baru saja hijrah, masih bertatih dalam keistiqamahan. Sedangkan Aisyah, ia telah lama menapaki jalan kebaikan. Rafi merasa dirinya tak pantas, tak layak untuk menaruh harapan lebih.
Doa-doa dalam Sepertiga Malam
Malam itu, Rafi terbangun dalam gelap. Ia menatap jam di dinding—pukul tiga pagi. Hatinya gelisah, seperti ada sesuatu yang menuntunnya untuk berwudhu dan bersujud lebih lama dari biasanya.
Dalam sunyi, ia membentangkan sajadahnya. Udara dingin menggigit kulit, tetapi hatinya terasa hangat dalam dekapan doa.
“Ya Allah,” suara Rafi bergetar dalam lirihnya munajat. “Aku hanya seorang hamba yang penuh dosa, yang baru belajar berjalan dalam hidayah-Mu. Aku tak meminta yang sempurna, aku hanya meminta seseorang yang bisa membimbingku semakin dekat kepada-Mu. Jika memang ada seseorang yang Engkau takdirkan untukku, maka dekatkanlah ia dengan cara yang Engkau ridai.”
Ia tak menyebutkan nama. Ia tak berani. Ia hanya menyerahkan segalanya pada Allah, karena ia tahu hanya Dia yang mengetahui siapa yang terbaik untuknya.
Di tempat yang berbeda, di rumahnya yang sederhana, Aisyah juga tengah bermunajat. Ia selalu berdoa agar Allah mengaruniainya seorang imam yang bisa membimbingnya menuju surga.
“Ya Allah, jika jodohku masih jauh, dekatkanlah ia dengan doa. Jika ia dekat, satukanlah kami dalam restu-Mu.”
Langit malam menjadi saksi dua hati yang sama-sama berserah. Mereka tak tahu bahwa doa mereka bertaut dalam keheningan, di bawah langit yang sama, menuju Tuhan yang sama.
Lamaran dari Orang Lain
Pagi itu, rumah Aisyah terasa lebih ramai dari biasanya. Ibunya sibuk menyiapkan hidangan terbaik, sementara ayahnya tampak berbincang serius dengan seorang tamu yang datang bersama keluarganya. Aisyah duduk dengan tenang, meskipun hatinya terasa bergetar.
“Aisyah, ini keluarga dari Ustaz Hakim. Mereka berniat melamar kamu untuk putra mereka, Faris,” suara ayahnya terdengar tegas, namun lembut.
Faris adalah pemuda yang baik, dari keluarga terpandang, dikenal sebagai sosok yang santun dan berilmu. Namun, saat nama itu disebutkan, Aisyah merasakan kehampaan yang aneh. Seharusnya, ini menjadi kebahagiaan bagi seorang wanita, tapi mengapa hatinya terasa begitu kosong?
“Beri Aisyah waktu, Ayah, Ibu. Aisyah ingin istikharah dulu,” jawabnya lembut.
Malam itu, di atas sajadah yang telah lama menjadi saksi bisu doa-doanya, Aisyah bersujud lebih lama dari biasanya. (bersambung ke bagian 3)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post