Avesiar – Jakarta
Sering tanpa disadari, seseorang terlihat sukses dalam kehidupannya, terutama yang bersifat materi. Namun, jauh di kedalaman jiwanya, terdapat kekosongan dan kekeringan yang menyelimuti. Orang-orang di sekitar hanya mampu melihat keadaan materinya, sedangkan hanya pribadi itu sendirilah yang mengetahui betapa materi dan keberhasilan hanya fatamorgana kebahagiaan hati.
Dilansir laman Nahdlatul Ulama, dalam materi khutbah Jum’at berjudul, Inilah Obat bagi Jiwa yang Hampa dan Kering, Kamis (19/6/2023), disebutkan bahwa jiwa dan ruh, dalam Islam, adalah satu istilah yang biasa dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang memberikan kehidupan kepada tubuh manusia.
Jiwa juga merupakan sumber dari pikiran, perasaan, dan keinginan kita. Di dalam diri kita, terdapat perang yang tak terlihat. Perang antara jiwa yang ingin bebas dan hati yang ingin taat. Perang antara keinginan yang tak terkendali dan kesadaran yang ingin mengendalikan.
Karena itulah, sebagai orang beriman, kita harus menyadari bahwa jiwa yang beruntung adalah jiwa yang tenang, yang ridha dan diridhai oleh Allah Ta’ala. sebagaimana telah difirmankan oleh Allah Ta’ala.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan/Penciptamu dengan ridho (rela, senang) dan diridho-Nya (disenangi-Nya). Masuklah ke dalam tempat hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr. Ayat 27-30)
Menundukkan dan menenangkan jiwa agar tenang, bahagia, ridha dan diridhai bukanlah perkara mudah. hal ini memerlukan kesadaran, kesabaran, dan keteguhan. hal ini juga memerlukan kita untuk memahami diri sendiri, untuk mengenali keinginan dan kelemahan kita.
Ketika kita berhasil menundukkan jiwa kita, kita akan merasakan kedamaian yang tak terkira. Kita akan merasakan kebebasan yang sebenarnya, kebebasan dari belenggu keinginan dan kelemahan kita sendiri.
Kunci kebahagiaan adalah jiwa yang tenang. Dalam kehidupan yang terasa cepat dan penuh tekanan ini, jiwa kita sering terganggu oleh stres, kecemasan, dan kekhawatiran tentang masa depan, atau bahkan masih ada yang terbelenggu dengan kilasan masa lalu yang tidak baik. Maka kita perlu mengatur pola kehidupan kita, khususnya pola berpikir kita.
Beberapa kiat yang perlu kita perhatikan bersama untuk menenangkan jiwa kita adalah,
• Yang pertama adalah dengan bersyukur
Bersyukur bukan hanya tentang mengucapkan kata-kata, tetapi tentang merasakan dari dalam hati. Ketika kita bersyukur, kita dapat melihat keindahan dalam setiap kesulitan, kita dapat menemukan hikmah dalam setiap kesalahan, dan kita dapat merasakan kedamaian dalam setiap tantangan.
Dalam kehidupan yang serba dipenuhi gengsi seperti saat ini, bersyukur adalah obat yang sangat efektif untuk menenangkan jiwa. Dengan bersyukur, kita dapat mengurangi stres, meningkatkan kesadaran diri, dan mencapai kebahagiaan yang lebih dalam. Allah Ta’ala berfirman:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras’.” (QS. Ibrahim. Ayat 7)
Dalam kitab tafsir Lathaiful Isyarat jilid 2 Halaman 241, Imam Al-Qusyairi menampilkan sebagian pendapat ulama tentang ayat tersebut:
“Dan dikatakan (oleh Allah), ‘Jika kamu bersyukur atas apa yang Kami tampilkan dalam batinmu, Kami akan menambahmu dengan apa yang Kami kenakan sebagai penjagaan pada lahirmu.'”
Pendapat ini bisa diartikan bahwa batin atau bisa dibahasakan jiwa yang menerima dan menyadari terhadap setiap anugerah, akan mendapatkan penjagaan secara jelas terhadap ketenangan dan rasa bahagia secara dzohir.
• Yang kedua, ketenangan jiwa bisa didapatkan dengan tafakkur
Tafakkur dalam arti berfikir positif. Berpikir positif bukan hanya tentang mengabaikan masalah, tapi tentang menghadapi tantangan dengan sikap yang lebih optimis dan percaya diri.
Kehidupan modern seringkali membuat kita merasa seperti sedang berada di tengah badai. Tekanan, stres, dan kecemasan dapat membuat kita merasa kehilangan kendali. Maka dengan berfikir positif dan optimis bisa menjadi kunci ketenangan jiwa dalam menghadapi setiap situasi yang terjadi.
Dalam kitab Adab Ad-Dunya wa Ad-din Halaman 17 Imam Mawardi meriwayatkan satu hadist nabi tentang betapa hebatnya pengaruh berfikir.
“Tidak ada sesuatu yang lebih berharga yang dapat diperoleh seseorang seperti akal yang membimbing pemiliknya menuju petunjuk, atau menjauhkannya dari kesesatan.”
Sabda Baginda Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ini menekankan pentingnya akal (berfikir) dalam membimbing seseorang menuju jalan yang benar dan menjauhkannya dari kesalahan. Akal yang sehat dan bijak dapat membantu seseorang membuat keputusan yang tepat dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Dengan begitu kita bisa berharap memiliki jiwa yang tenang.
Dengan istiqamah menjalankan dua kiat tersebut, InsyaAllah kita berpeluang memiliki jiwa yang tenang dan tentram. Tapi perlu kita ingat bersama, bahwa usaha yang tidak disertai doa hanya akan membuat hati kita menjadi keras, jiwa menjadi sombong, oleh karenanya penting kita menutup setiap kiat ataupun usaha yang kita lakukan dalam hal apapun dengan doa meminta pertolongan dan perlindungan dari Allah Ta’ala. (adm)













Discussion about this post