Avesiar.com
Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku
Karya: Aqsha Rizad Ibrahim (Siswa kelas XI Mia 1, Medan, Sumatera Utara)
Aleesha jarang sekali sakit dan sekarang aku harus menghadapinya saat Kakek sedang pergi. Tapi aku cukup paham apa yang harus dilakukan saat seseorang terkena demam. Untung saja aku ingat bahwa di ruang tamu depan masih ada obat paracetamol yang memang dipersiapkan Kakek untuk keadaan darurat. Aku pun pergi ke ruang tamu lebih dulu untuk mengambil paracetamol di dalam kotak P3K.
Aku masuk ke dapur dan aku menemukan Aleesha sedang duduk di sana memakan Kuymak yang baru saja aku masak. Sebentar, kurasa tidak sulit untuk menemukan paracetamol tadi. Aku juga merasa bahwa aku menghabiskan tidak lebih dari 2 menit untuk berjalan ke ruang tamu, mencari paracetamol tersebut, dan pergi menuju dapur. Aleesha juga sedang dalam kondisi yang cukup buruk tadi. Bagaimana bisa dia berada secepat itu berada di dapur dengan kondisinya yang seburuk itu?
“Aleesha? Kenapa kau ke sini? Aku baru saja mau mengambilkan Kuymak-mu dan obat ini agar kondisimu juga bisa membaik.”
“Ha? Kenapa abang harus mengambilkan untukku? Aku bisa sendiri. Apa maksudmu?”
“Kau itu demam, Aleesha. Kau seharusnya tetap berada di kamarmu.”
“Hei aku baik-baik saja. Ada apa denganmu? Kenapa aku harus demam?”
“Hah? Apa maksudmu?”
Belum selesai dengan kebingungan kami, semacam angin kencang tiba-tiba saja masuk ke dapur dan seperti menghantamku dan Aleesha begitu saja. Aku pun tersungkur dan kepalaku terbentur meja, sedangkan Aleesha terjatuh dari kursinya.
“Aeden.. kita bertemu.”
Sebuah suara yang terdengar berat muncul entah dari mana. Suara itu seolah-olah seperti menyelimuti dapur, dan mengepung kami.
“Hei! Siapa kau?! Kenapa kau mengganggu kami, hah?!?!” tanyaku marah.
Aku berusaha untuk tetap tenang dan mencari tahu apa yang sedang kami hadapi. Aku tidak pernah menemui dan berurusan dengan hal-hal gaib semacam ini sebelumnya. Tapi aku yakin, apapun wujud mereka, mereka hanyalah makhluk gaib yang mana derajatnya lebih rendah dibandingkan manusia.
“Kau tanya siapa aku ya..? KAU BERTANYA TENTANG SIAPA DIRIKU HAH?!”
Dia marah bahkan sebelum menunjukkan wujud aslinya.
“KENAPA TIDAK KAU TANYA SAJA KEPADA DIRIMU SENDIRI? TENTANG APA YANG TELAH KAU BENCI SELAMA INI!”
Bentakannya membuatku terdiam kaku, dan tiba-tiba sekarang aku tidak bisa merasakan seluruh tubuhku. Rasanya seperti membuatku mati rasa. Aku tidak bisa menggerakkan satupun anggota badanku, kecuali melihat keadaan sekelilingku dan aku mulai menyadari bahwa ruangan yang tadinya dapur rumahku berubah menjadi sebuah lorong panjang dengan sebuah ujung bercahaya, berada jauh tepat di depan mataku.
Cahaya itu perlahan memudar, menjadi redup dan perlahan berubah menjadi gelap. Detik berikutnya aku menyadari bahwa hal itu sejalan dengan munculnya sebuah bayangan hitam besar dan memiliki mata merah menyala sedang melesat cepat datang ke arahku. Aku hanya bisa merasakan detak jantungku berubah menjadi sangat cepat dan seluruh tubuhku benar-benar seperti diikat oleh sesuatu yang tidak tampak olehku.
“Aeden, kau tidak perlu tahu siapa aku,” ujar bayangan hitam tersebut.
“Kau seharusnya tahu siapa aku sebagaimana kau mengenali dirimu sendiri!” sambungnya.
“Sudah waktunya bagiku mengambil seseorang yang kau sayangi dari hidupmu,” lanjutnya.
Sekarang dia berada tepat di depan wajahku dan ia berbicara dengan tenang namun sangat tegas. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya saat ia berbicara. Hangat, namun menusuk kulitku. Tubuhku gemetar hebat. Saat berikutnya dia mulai mendekat lagi ke wajahku, sesuatu yang mungkin bisa disebut sebagai tangannya bisa kurasakan mulai meraba leherku, kemudian memegang kepala sampingku. Tangannya terasa sangat dingin. Sebisa mungkin aku merapal doa-doa yang kuhafal, namun tidak satupun terucap sempurna olehku.
“Aeden, cegah aku sebelum terlambat. Aku bahkan tidak bisa menghentikan diriku sendiri. Hanya kau yang bisa merubah semuanya sebelum kau benar-benar kehilangan segalanya.” (Bersambung besok)
—–











Discussion about this post