• Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Citizen Journalism & Video Cerpen dan Puisi

Cerpen (Bagian 3), Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku

by Avesiar
3 Desember 2022 | 05:00 WIB
in Cerpen dan Puisi
Reading Time: 6 mins read
A A
Cerpen (Bagian 1), Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku

Ilustrasi. Foto: Pexels

Avesiar.com

Mengubah Pandanganku Terhadap Ibuku

Karya: Aqsha Rizad Ibrahim (Siswa kelas XI Mia 1, Medan, Sumatera Utara)

Aku tersentak. Selanjutnya aku bisa melihat Aleesha yang baru saja terjatuh dari kursinya. Aku kembali ke dapur rumahku, entah bagaimana. Tadi itu terasa sangat nyata, bahkan jantungku masih berdegup sangat kencang hingga detik ini.

”Kau tidak apa-apa Aleesha?” tanyaku.

“Tidak, lututku hanya sakit sedikit saja kok. Tenang saja.” Katanya

“Oh iya, kenapa tadi abang berbicara seolah-olah aku demam dan sebagainya? Kau bermimpi yah?” sambungnya.

Aku tidak menjawabnya. Dengan kejadian tadi, aku mulai menyadari bahwa makhluk itu dapat menyerupai Aleesha. Aku tidak mau Aleesha merasa ketakutan, jadi aku memilih untuk menyimpan itu semua sebelum aku benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan makhluk tadi, dan kenapa dia harus menyamar sebagai Aleesha.

Bacaan Terkait :

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 3, habis)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 2)

Munajat Cinta: Linangan Air Mata Zakariyah dan Tangisan Ruqayyah (bagian 1)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya,Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 3, habis)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 2)

Muhasabah Cinta: Jalan Pulang Menuju-Nya, Ketika Azzam Mengagumi Nadia (bagian 1)

Cerpen: Saat Takdir Bertaut di Mihrab Cinta (bagian 4, habis)

Load More

“Ya, aku masih mengantuk tadi. Bahkan aku masih terbawa mimpi, lucu sekali. Sudah ayo mari kita makan kuymak ini. Aku sudah membuatnya spesial untukmu. Kau suka kan?”

“Hei tentu saja! Sejak kapan aku tidak suka Kuymak? Maksudku ini makanan favoritku dan mengapa kau bertanya bahkan ketika kau tahu itu kan? Retoris sekali, hahahahah”

“Hmm kukira kau tidak akan makan masakanku bahkan jika itu Kuymak kesukaanmu.”

“Ya tadinya aku memang tidak mau, tapi karena tidak ada makanan lain apa boleh buat?”

“Oh begitu ya? Oke, kalau begitu nanti siang kita urus diri kita masing-masing ya.”

“Siapa takut? Aku bisa masak sendiri kok.”

“Ya sudah kalau itu maumu, awas saja yaa…” godaku.

Perasaanku menjadi sedikit membaik setelah aku bercanda dengan Aleesha. Tapi itu tidak menutup fakta bahwa kejadian tadi terasa sangat nyata adanya bagiku. Sesudah sarapan ini, aku mengajak Aleesha ke perpustakaan – pikiranku menjadi lebih jernih ketika berada di sana, setidaknya itu mungkin bisa membuatku memahami apa yang sedang terjadi – dan berniat ke toko roti setelahnya.

—–

Aku mulai berpikir kalau sebenarnya apa yang terjadi pada Aleesha sejak tadi malam, itu bukanlah Aleesha. Namun yang terpenting sekarang dia baik-baik saja. Jadi, kupikir tidak masalah kalau aku tidak menceritakan hal-hal yang aku alami dari tadi malam.

Kami pun sampai di perpustakaan. Aku berniat mencari buku tentang teori-teori fisika kuantum yang memang sudah lama aku cari. Aku pergi ke rak-rak sains yang berada di ujung paling belakang jika dilihat dari pintu masuk. Sementara itu Aleesha pergi ke tempat buku fiksi yang berada di sekitaran pintu masuk.

“Sepi sekali, tidak biasanya seperti ini.” gumamku.

Karena memang terlampau sepi, terutama di bagian buku-buku sains, aku mulai merasa cukup dingin. Hawa nya berbeda sekali. Tapi aku menghiraukannya, karena memang udara di luar juga lagi sangat dingin. Ketika aku sedang mencari-cari buku yang kumaksud – fisika kuantum – aku tidak sengaja menjatuhkan sebuah buku dari rak atas yang tidak sengaja tersenggol olehku. Buku itu jatuh ke atas kaki ku, dan terbuka seolah-olah menyuruhku untuk membacanya. Aku pun memungut buku tersebut dan segera melihat sampul depannya.

“Wujud Emosi: Parsial Buruk di Masa Lalu” bacaku dalam hati.

Entah mengapa buku itu seolah benar-benar menyuruhku untuk membacanya – dan itu berhasil, lucu sekali. Pada akhirnya aku pun mengambil buku itu dan melupakan tujuan awalku untuk mencari buku fisika. Aku membuka buku tersebut, dan menemukan bahwa buku ini dicetak pada awal abad 19.

Untuk ukuran  perpustakaan swasta, ini termasuk lengkap. Bagaimana hebatnya mereka masih bisa menyimpan dengan baik buku yang diterbitkan seabad lalu. Dari kata pengantarnya saja, aku bisa merasakan bahwa ini adalah buku bagus. Aku bisa merasakan suasana yang sakral ketika aku membacanya, walaupun ini bukanlah kitab agama maupun buku rohani apapun.

—–

Tak terasa dua setengah jam berlalu semenjak aku membuka halaman pertama dari buku ini. Aku mulai merasa lapar karena memang kami pergi sekitar pukul 11. Aku pun memutuskan untuk meminjam buku tersebut karena aku masih penasaran dengan kelanjutannya.

Aku pun mengajak Aleesha untuk keluar dari perpustakaan dan segera pergi ke toko roti untuk makan siang. Namun, hal “aneh” kembali terjadi. Buku yang barusan kutemukan dan kubaca selama dua setengah jam, tidak tercatat dalam arsip data perpustakaan.

Maksudku, aneh saja. Meskipun memang perpustakaan ini adalah perpustakaan swasta, namun perpustakaan ini adalah perpustakaan termasyhur di Antalya. Aku sudah mengenalnya sejak dulu, sejak awal aku tinggal bersama Kakek.

Setelah petugas penjaga perpustakaan tersebut kewalahan mencari data mengenai buku itu – data itu diperlukan agar aku bisa meminjam buku ini – ia pun akhirnya menyerah. Baik dari komputer, ataupun dokumen fisik, tidak ada satupun yang menunjukkan riwayat buku ini. Mereka pun akhirnya meminta agar aku menunda peminjaman, setidaknya sampai mereka menemukan data-data validnya.

Sepanjang jalan aku terus memikirkan mengenai isi buku itu. Ada satu narasi yang menarik perhatianku. Dan salah satu kalimatnya berbunyi seperti ini.

“..emosi maupun alam bawah sadar yang masih terjebak di masa lalu, terlebih dalam konotasi negatif, akan selalu tersimpan dan mengikuti kita selama kita tidak benar-benar melupakannya. Perlahan namun secara pasti, ia akan membentuk suatu energi yang bisa meledak kapan saja, terutama ketika ada kejadian yang dapat memantiknya. Energi tersebut terkadang bisa menjadi sangat kuat, terlampau kuat bahkan, hingga energi itu bisa terwujud menjadi figur yang nyata, bersinggungan dengan kita secara fisik, bahkan bisa memengaruhi kehidupan kita di dunia nyata.”

Jelas sudah, bahwa yang aku hadapi sekarang ini adalah ‘energi’ yang dimaksud itu. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Bagaimana tidak, makhluk itu bilang bahwa dia akan merenggut orang yang aku sayangi. Tentu saja itu adalah Aleesha! Sekarang aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjaga Aleesha.

Aku adalah abang yang buruk. Bagaimana bisa masalah yang seharusnya menjadi urusanku, kini Aleesha juga harus menerima akibatnya. Aku seperti kehilangan harapan. Aku tidak mau kehilangan Aleesha begitu saja. Aku sayang sekali dengannya. Pikiranku kacau sekali sekarang ini. Sepanjang jalan dan ketika berada di toko roti untuk makan siang bersama Aleesha, aku terlihat sangat bodoh sekali.

Setelah makan siang, kami pulang ke rumah untuk beristirahat, mengingat besok adalah hari sekolah. Sesampainya dirumah, Aleesha kedatangan teman-temannya dan mereka bermain di dalam kamarnya. Aku memutuskan untuk tidur siang karena aku merasa sangat lelah, baik secara fisik maupun mental.

Aku bahkan merasa sudah setengah gila setelah memikirkan ini semua. Di saat seperti ini aku sangat membutuhkan seseorang. Aku tidak mungkin bercerita kepada Aleesha karena itu hanya akan memperburuk keadaan. Bisa-bisa dia yang depresi, bukan aku.

—–

Alarm-ku berbunyi dan jam telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Aku bergegas untuk melaksanakan salat Ashar dan mandi sore setelahnya. Kemudian, aku pun menyiapkan makan malam. Aku mengajak Aleesha untuk bersama-sama membuat kofte – daging yang diolah dan dibentuk seperti kepingan koin lalu dimakan bersama kentang atau nasi – dan berharap dengan ini bisa menenangkan pikiranku yang kacau seharian ini. Aleesha membuat kofte sementara aku mempersiapkan hidangan pendamping lainnya, terutama kentang.

“Sebenarnya ada yang mau aku tanyakan,” kata Aleesha.

“Tanya saja,” sambungku.

“Tadi malam, aku tidak ingat sekali tapi sepertinya sekitar jam 3 pagi, apa yang kau lakukan?”

“Maksudmu?”

“Ya aku mendengarmu cukup gaduh di kamarmu, apa kau takut mendengar suara teriakan itu?”

“Hah?! Teriakan itu bukan darimu?”

“Bukan. Tentu saja bukan. Aku juga sempat terbangun ketika mendengarnya, tapi karena aku sudah pernah mendengarnya sebelumnya, aku hiraukan saja. Aku langsung tidur setelahnya.”

Bulu kudukku langsung berdiri. Aku sangat tidak menyangka hal ini. Kalau begitu apa yang aku lakukan ketika itu jika pada malam itu yang aku jumpai bukan Aleesha?

(Bersambung besok)

Tags: Cerita PendekCerpenCerpen KehidupanCerpen ReligiCerpen Remaja
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dukung Palestina, UEA Kirim Pasokan Medis Senilai 153,5 Miliar ke Gaza

Next Post

Dibandingkan Pinjol, OJK: Perbankan Syariah Menawarkan Jaminan Kesejahteraan yang Lebih Baik

Mungkin Anda Juga Suka :

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

Humor Saat Puasa, Mengangkut Garam dan Mengakali Keledai yang Nakal

14 Maret 2026

...

Di Ambang Mahacahaya

Di Ambang Mahacahaya

9 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

Humor Saat Puasa, Nasruddin Hoja Menemani Penguasa dan Kisah Namrudz

9 Maret 2026

...

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

Tasbih Sunyi di Relung Nurani

8 Maret 2026

...

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

Humor Saat Puasa, Ketika Nasruddin Hoja Menyelamatkan Bulan

8 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Dibandingkan Pinjol, OJK: Perbankan Syariah Menawarkan Jaminan Kesejahteraan yang Lebih Baik

Dibandingkan Pinjol, OJK: Perbankan Syariah Menawarkan Jaminan Kesejahteraan yang Lebih Baik

Legenda Bola Brasil, Pele 82 Tahun, Dalam Perawatan Paliatif Usai Perawatan Kemoterapi

Legenda Bola Brasil, Pele 82 Tahun, Dalam Perawatan Paliatif Usai Perawatan Kemoterapi

Discussion about this post

TERKINI

Kabar Baik Dibukanya Selat Hormuz, Saham Melonjak dan Harga Minyak Anjlok 10 Persen

17 April 2026

Paus Leo Tidak Takut pada Trump, Menyebut Dunia Sedang Dihancurkan Segelintir Tiran Saat Berseteru dengan Gedung Putih

16 April 2026

Polemik Alat Vape Disalahgunakan, Menelusuri Hukum Rokok Elektrik

15 April 2026

Saksikan Segera, Podcast Khusus Profesional “Ladders to be Leaders” Mengulas Perjalanan Hidup dan Karir

15 April 2026

AS Repot Berkonflik dengan Iran, Zelenskyy Kecewa Dicuekin Karena Suplai Senjata ke Ukraina Terganggu

15 April 2026

TikTok Lapor Tutup 780 Ribu Akun Anak dan Roblox Belum Dianggap Patuh PP TUNAS, Beberapa Menyatakan Patuh

14 April 2026

Negosiasi Iran dan AS Disebut Akan “Segera” Diadakan Lagi di Islamabad, Iran Menolak Diatur Pengayaan Uranium dan Nuklirnya

14 April 2026

Sufi Wanita yang Akan Menggenggam Tauhid Demi Menagih Janji Allah

13 April 2026

Perundingan di Pakistan Gagal Mendikte Soal Program Nuklir, Trump Ancam Blokade Hormuz dan Serang Infrastruktur Sipil Iran

12 April 2026

Munas XVI IPSI 2026 Dibuka Presiden Prabowo, Pencak Silat Budaya Bangsa Menuju Olimpiade

11 April 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Cyber
  • Kontak

© 2017 Avesiar.com - All Rights Reserved

  • Nasional & Opini
    • Politik
    • Hukum
    • Sosial
    • Budaya
    • HanKam
    • Daerah
    • Kesehatan
    • Edukasi
    • Opini
    • English Version
  • World
    • Economy
    • Politic
    • Law
    • Culture
    • Islam
    • Freedom for Palestine
    • Umra & Hajj
    • Tourism
  • Ekonomi
    • Bisnis & Wirausaha
    • Common
    • Islami
    • Property
    • CSR
  • Nusantara
    • Metro
    • Urban
    • Guru Kita
    • Prestasi
    • Profil Perubahan
    • Wisata
  • Healtech
    • Hidup Sehat
    • Riset
    • Teknologi
    • Gadget
  • Auto-Sport & Hobby
    • Aneka Olah Raga
    • Sepeda
    • Golf
    • Auto
    • Fauna & Flora Care
  • Change
    • Motivasi
    • Entrepreneurship
    • Pensiun Sehat
  • Syar’i
    • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
    • Muslim Fashion
    • Harmoni Keluarga
    • Griya Harmoni
    • Psikologi
    • Masjid & Activity
  • People & Activity
    • Figure
    • Community
    • Society
    • Social
    • Event
    • Podcast Ladders to be Leaders
  • KAMU KUAT
    • Podcast KAMU KUAT
  • Youth
    • Smart Teens
    • Students
    • School Story
    • Campuss Story
    • Millennial
  • Kuliner
    • Resto
    • Kaki Lima
    • Resep
  • City Jour & Video