Avesiar – Puisi dan Cerpen
Lentera di Tengah Kabut (bagian 2)
Oleh: Mas Ngabehi
***************
Suatu hari, ketika Rahmat sedang membersihkan gudang rumahnya yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba, ia menemukan sebuah benda yang tertutupi kain lusuh. Setelah membukanya, ia melihat sebuah lentera tua dengan ukiran kalimat di sisinya: “Cahaya adalah pengubah.”
Lentera itu tampak berbeda dari lentera minyak biasa yang sering digunakan warga desa. Desainnya rumit, dengan pola-pola yang mengingatkan Rahmat pada buku-buku tentang sejarah yang pernah ia baca.
Rahmat membawa lentera itu ke dalam rumah. Ia membersihkannya dengan hati-hati, menggosok setiap sudut hingga cahayanya memantul di dinding. Saat malam tiba, Rahmat memutuskan untuk menyalakan lentera itu untuk pertama kalinya.
Begitu sumbu menyala, cahaya yang terpancar terasa berbeda. Tidak hanya menerangi ruangan, cahaya itu juga memberi kehangatan yang tak biasa. Seolah-olah lentera itu memancarkan rasa damai dan keberanian yang belum pernah Rahmat rasakan sebelumnya.
Saat duduk di bawah cahayanya, Rahmat membuka sebuah buku tua tentang astronomi yang diwariskan ayahnya. Anehnya, kata-kata di halaman-halaman buku itu tampak lebih hidup di bawah cahaya lentera tersebut. Setiap huruf seolah berbisik, memberikan kekuatan pada Rahmat untuk bermimpi lebih besar.
Malam itu, Rahmat merasa seperti mendapat pencerahan baru. Lentera itu bukan hanya alat penerangan, tetapi simbol harapan dan perubahan.
Rahmat mulai berpikir untuk berbagi cahaya ini dengan orang lain. Ia tahu bahwa banyak anak di desa yang tidak bisa membaca. Mereka tumbuh dalam kebutaan pengetahuan, sama seperti warga lainnya. Namun, Rahmat percaya bahwa jika ia bisa mengajarkan anak-anak itu membaca, mereka bisa menjadi cahaya kecil yang menerangi masa depan desa ini.
Keesokan harinya, Rahmat mulai memanggil beberapa anak yang ia kenal. Dengan suara lembut, ia mengundang mereka ke rumahnya untuk belajar membaca. Awalnya, anak-anak itu ragu. Mereka takut pada kabut dan cerita-cerita mistis yang sering dikaitkan dengan buku. Namun, setelah melihat lentera ajaib Rahmat, rasa penasaran mereka mengalahkan ketakutan mereka. Cahaya hangat dari lentera itu seolah memanggil mereka untuk mendekat.
Rahmat mengajarkan anak-anak itu huruf demi huruf, kata demi kata, di bawah cahaya lentera. Malam-malam di rumah Rahmat mulai diisi dengan suara tawa dan semangat anak-anak yang belajar membaca. Lentera itu menjadi saksi dari awal perubahan kecil di desa yang selalu terperangkap dalam kabut.
Namun, perubahan ini tidak luput dari perhatian para tetua desa. Mereka mulai mencurigai Rahmat dan lentera ajaibnya. Desas-desus mulai menyebar bahwa lentera itu adalah penyebab kabut yang semakin tebal. Mereka menuduh Rahmat mencoba melawan tradisi dan membahayakan desa.
“Cahaya itu bukan cahaya biasa,” kata seorang tetua. “Itu adalah cahaya yang membawa kehancuran.”
Rahmat tahu bahwa perjuangannya tidak akan mudah. Tetapi ia percaya bahwa cahaya lentera ini, sekecil apa pun, dapat menjadi awal dari perubahan besar. Ia memutuskan untuk terus mengajar, meskipun harus menghadapi penolakan dan ancaman.
Karena ia yakin, di balik kabut yang tebal, selalu ada cahaya yang menunggu untuk ditemukan. Dan lentera itu, dengan ukirannya yang berbunyi “Cahaya adalah pengubah,” akan menjadi simbol harapan bagi desa yang telah lama terperangkap dalam kegelapan.
Pertarungan Antara Tradisi dan Perubahan
Malam itu, lentera Rahmat terus menyala, memancarkan cahayanya yang hangat di tengah kabut pekat. Namun, tidak semua mata di desa melihat cahaya itu dengan harapan. Para tetua adat berkumpul di balai desa, membahas tindakan Rahmat yang dianggap mengancam keseimbangan tradisi.
Tokoh adat yang paling vokal, Pak Kyai Marwan, memimpin pertemuan dengan suara berat yang penuh keyakinan.
“Lentera itu membawa kehancuran,” kata Pak Kyai Marwan sambil menunjuk ke arah rumah Rahmat. “Kabut semakin tebal sejak lentera itu dinyalakan. Apakah kalian tidak melihat?”
Bisik-bisik ketakutan menyebar di antara para warga yang hadir. Lentera Rahmat menjadi bahan pembicaraan utama, diwarnai isu-isu yang kian liar. Beberapa orang percaya bahwa cahaya lentera adalah kutukan yang memanggil kabut lebih gelap, sementara yang lain berpendapat bahwa Rahmat tengah mengundang roh-roh asing ke desa mereka.
Rahmat sendiri tidak tahu bahwa lentera kecilnya menjadi pusat perhatian. Ia sibuk mengajar beberapa anak membaca di ruang tengah rumahnya yang sederhana. Lentera itu berdiri di meja, memancarkan cahaya hangat yang cukup untuk menerangi halaman-halaman buku tua yang ia gunakan.
“Huruf ini apa?” tanya Ani, seorang gadis kecil dengan mata berbinar.
“Itu ‘A’,” jawab Rahmat lembut. “Dan ini adalah awal dari kata ‘Anak’.”
Anak-anak tertawa kecil. Mereka merasa belajar membaca adalah permainan baru yang menyenangkan. Namun, tawa mereka terhenti ketika pintu rumah Rahmat digedor keras. Di luar, Pak Kyai Marwan berdiri dengan beberapa warga desa.
“Rahmat! Keluar kau!” suara Pak Kyai bergema.
Rahmat membuka pintu dengan tenang. “Ada apa, Pak Kyai?”
“Matikan lentera itu! Kau tahu apa yang telah kau lakukan? Kabut semakin tebal karena ulahmu! Kau telah melanggar aturan desa dan membawa bahaya ke sini.”
Rahmat mengerutkan dahi. “Pak Kyai, lentera ini hanya untuk menerangi buku-buku. Kabut bukan karena lentera ini.”
“Jangan membantah!” Pak Kyai Marwan membentak. “Kau terlalu banyak membaca buku asing itu. Ini desa kita, dengan aturan kita. Lentera itu adalah simbol dari perubahan yang tidak kita inginkan. Kau harus memadamkannya, atau kami yang akan melakukannya.”
Rahmat menghela napas, tapi ia tidak berkata apa-apa. Di balik pintu, anak-anak memandang dengan mata takut. Rahmat menoleh ke arah mereka, lalu kembali menatap Pak Kyai Marwan.
“Saya tidak akan memadamkan lentera ini,” kata Rahmat akhirnya. “Cahaya ini bukan untuk melawan tradisi, tetapi untuk menyalakan harapan.”
Pak Kyai Marwan mendengus marah. “Kau keras kepala! Kami akan kembali dengan seluruh warga desa jika kau masih menolak.” (bersambung ke bagian 3)
______________
Selayang pandang:
Penulis puisi dan cerpen Dr. Sri Satata, M.M, adalah Pegiat Bahasa dan Sastra, serta Dosen.
Ia adalah sosok yang telah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan dan sastra selama lebih dari dua dekade. Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, ia berhasil membangun reputasi sebagai salah satu figur yang berpengaruh dalam pengembangan literasi di Indonesia.
Sri Satata aka Mas Ngabehi menyelesaikan studi S1 di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surakarta (1984–1988). Selanjutnya, ia meraih gelar Magister Manajemen dari International Golden Institute (2002–2004) dan menyempurnakan pendidikannya dengan gelar Doktor dalam bidang Manajemen Ilmu Pendidikan di Uninus Bandung (2020–2022).













Discussion about this post