Avesiar.com
Bidadari Berkerudung Biru
Karya: Deddy Mulyana
Kumasuki masjid itu dengan perasaan asing. Aneh memang, sampai aku mempunyai perasaan semacam ini. Padahal aku beragama Islam. Aku memang seorang Muslim, tetapi bukan pemeluk yang taat.
Aku tak pernah melaksanakan salat. Atau kalaupun salat, paling-paling sekali atau dua kali dalam setahun, pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.
Aku terpaksa memasuki kompleks Pusat Dakwah Islam(Pusdai) ini untuk menyaksikan akad nikah salah seorang sahabatku. Tadinya aku agak keberatan datang ke tempat ibadah ini. Tetapi sahabatku yang orang seberang itu sangat mengharapkan aku untuk mendampinginya pada hari bersejarahnya. Ia memang sahabat karibku di tempat kerja, juga teman kuliahku dulu.
Belum banyak orang yang hadir di rumah Tuhan ini. Aku duduk terpisah sendiri. Ruangan masjid menjadi lebih lengang dan tenang, karena baru saja ditinggalkan jemaahnya yang telah dibekali santapan rohani. Suasana masjid dengan dinding dan karpetnya yang berwarna sejuk terasa menenteramkan.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara seorang perempuan dari belakangku. Dengan agak kaku aku menjawab.
“Wa’alaikumussalam….”
Perempuan muda itu duduk di dekatku. Ia menganggukkan kepala seraya tersenyum tipis. Kubalas anggukan dan senyumannya. Untuk beberapa saat kami berdiam diri.
Dari arah samping aku mencuri panjang pada wajahnya beberapa detik dan beberapa kali. Terus terang, wajah gadis berkerudung biru itu enak dipandang. Tidak terlalu cantik memang, tetapi seakan mengandung magnet yang menarik-narik mataku untuk meliriknya.
“Adik juga mau menghadiri akad pernikahan?” Aku memberanikan diri bertanya padanya. Aku memanggilnya Adik karena kukira ia lebih muda daripadaku.
“Iya. Kakak juga?” gadis itu balas bertanya.
Aku mengangguk.
“Calon pengantin perempuannya saudara sepupu saya,” lanjutnya.
“Oh, dan calon pengantin prianya adalah sahabat saya,” kataku.
“Oh, ya?” Matanya mendelik. Lucu dan menyenangkan.
Selanjutnya aku dan gadis itu berbincang-bincang tentang banyak hal seraya menunggu dimulainya akad nikah sahabatku itu. Kami pun berkenalan. Kami tidak berjabat tangan ketika saling menyebutkan nama masing-masing.
Aku agak segan menjabat tangan seorang gadis di sebuah masjid. Lagi pula bisa jadi ia termasuk orang yang kurang suka berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Pernah kudengar gadis-gadis berkerudung memang berhati-hati dalam pergaulan dengan lawan jenis.
Gadis itu bernama Farida, seorang mahasiswi semester akhir Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, yang lebih dikenal sebagai Fikom Unpad. Farida, sebuah nama yang sederhana tetapi terdengar manis bila diucapkan.
Ia seorang pengunjung setia masjid ini. Ia bilang, setiap minggu pagi datang ke pusat dakwah Islam ini untuk mendengarkan ceramah dhuha, kecuali bila ada halangan. Tak jelas apa yang ia maksud. Tetapi aku dapat menerka-nerka. Mungkin halangan perempuan yang rutin setiap bulan.
“Jadi barusan juga Dik Ida mendengarkan ceramah, ya?” tanyaku.
“Iya. Kakak sendiri juga mendengarkan ceramah di sini?” Farida menatapku, seakan menyelidik.
“Kakak baru pertama kali ke masjid ini. Terus terang, Kakak memang jarang ke masjid,” ujarku. Aku merasa tidak punya beban untuk bersikap jujur.
“Tapi Kakak orang Islam, kan?”
“Ya. Memangnya kenapa?”
“Kalau kakak pergi salat Jum’at, ke masjid mana?”
Aku terdiam sejenak. Nah, lu! Agak malu juga aku ditanya seperti itu.
“Kakak tak pernah salat,” ujarku akhirnya.
“Tapi kakak bisa salat, kan?”
“Dulu waktu masih kecil. Sekarang tidak bisa lagi. Jampenya sudah lupa semua.”
“Maksud Kakak, bacaan salatnya?”
“Ya. Ya itu, maksud Kakak.”
“Mengaji bisa, nggak?”
“Dulu bisa sedikit-sedikit, tetapi sekarang tidak bisa lagi. Kakak memang buta agama.”
“Sayang. Seribu kali sayang,” kata Farida seakan menyesali. “Cakep-cakep nggak pernah salat.”
Farida tertawa. Gigi-giginya yang sehat itu tampak berkilat, gigi yang rapi menawan, membuatku gregetan. Aneh, aku merasa cepat akrab dengan gadis itu.Tampaknya Farida seorang gadis yang ramah, humoris, dan senantiasa ceria. Malah agak manja.
Udara sejuk terasa mengusap tubuh kami di ruangan masjid ini. Di luar aku tahu, matahari bersinar dengan cerahnya.
Orang-orang yang akan menyaksikan akad nikah berdatangan memasuki masjid. Kian banyak juga orang di masjid ini. Para petugas pernikahan dari Kantor Urusan Agama pun telah hadir. Tak lama kemudian kedua calon mempelai dan keluarga besar mereka pun muncul.
Sebagai sepasang pengantin, busana mereka yang didominasi warna putih tampak anggun dan tampil beda dibandingkan dengan busana yang dikenakan hadirin. Pengantin pria mengenakan kopiah, sedangkan pengantin perempuannya mengenakan hijab.
Acara akad nikah dimulai. Aku dan Farida menyaksikan seluruh acara sakral itu dengan khidmat. Resepsi pernikahan diadakan di Bale Asri, sebuah gedung cukup luas yang berdekatan dengan masjid. Farida ternyata akan bertugas melayani para tamu undangan pada waktunya nanti.
Setelah sahabatku dan saudara sepupu Farida resmi menjadi suami istri, mereka dan hampir semua yang hadir pindah ke Bale Asri. Beberapa saat lagi resepsi pernikahan akan segera dimulai. Segala sesuatunya termasuk makanan telah dipersiapkan.
Seraya menunggu dimulainya penerimaan tamu, aku dan Farida melanjutkan obrolan di luar gedung itu. Pembicaraan kami lebih banyak mengenai agama. Kukira pengetahuan Farida cukup mendalam tentang Islam.
Sekali-kali aku memandang wajahnya. Sungguh, aku merasa pada wajahnya terlukis keelokan tersendiri yang hampir tidak pernah aku dapatkan pada gadis-gadis yang kukenal selama ini. Ada semacam cahaya yang bersinar dari wajah gadis yang lugu itu.
Barangkali itulah sinar iman. Aku yang sarjana dan senantiasa bergelimang harta karena orang tuaku kaya, merasa tak begitu berarti di hadapannya.
“Jadi Kak, hakikat dan tujuan hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian segala sesuatu yang termasuk dalam rangka hidup, apakah itu mencari ilmu, bekerja, pacaran, dan menikah semuanya haruslah karena Allah semata-mata,” kata Farida.
“Pacaran karena Allah? Kok bisa?” tanyaku.
“Lho, bisa saja.”
“Bagaimana caranya?”
“Yah, dalam pacaran jangan melakukan hal-hal yang dilarang Allah.”
“Misalnya?”
“Misalnya, berdua-dua di tempat yang sepi, berpandangan berlama-lama yang menimbulkan berahi, tapi… daripada sibuk pacaran, lebih baik sibuk memperbaiki diri kan, Kak? Kakak tahu sendirilah bagaimana orang pacaran.”
Aku mengangguk-angguk, Farida memandangku sekilas sembari tersenyum. Aku merasa ia menyindirku dengan kata-katanya itu. Pergaulanku, khususnya dengan perempuan-perempuan, memang cukup bebas meskipun tidak pernah melewati batas-batas.
Diam-diam aku mengagumi perempuan ini. Dari tadi aku dinasihati olehnya. Memang sengaja aku memintanya untuk berbicara tentang agama. Dan aku berusaha menjadi pendengar yang baik.
Aku tak habis pikir, mengapa selama ini aku begitu lalai dengan agamaku sendiri. Dulu waktu masih kecil, aku memang pernah belajar salat dan mengaji melalui seorang guru agama di rumah.
Namun orang tuaku sendiri tak pernah menjalankan agama waktu itu, bahkan hingga kini. Mereka terlalu sibuk mengurus perusahaan mereka dan harta yang telah mereka kumpulkan.
Dan, kini rupanya aku ketularan sikap kedua orang tuaku, terlebih lagi aku pun sibuk memimpin salah satu cabang perusahaan yang didirikan ayahku.
Ketika resepsi sudah dimulai dan Farida sibuk melayani tamu, aku duduk sambil termenung-menung. Aku memikirkan Farida dengan segala ucapannya yang arif itu.
Aku lihat banyak tamu perempuan mengenakan baju panjang dan kerudung seperti Farida. Mereka mengenakan setelan pakaian yang tidak sembarangan menampakkan rambut atau kulit mereka. Sebagian dari kaum perempuan itu mengenakan kerudung yang sangat rapat.
Sahabatku yang kini jadi pengantin baru itu memang seorang laki-laki alim. Tak mengherankan bila keluarga dan teman-temannya pun banyak yang saleh. Hanya aku saja barangkali teman dekatnya yang jauh dari agama.
Aku begitu senang memandangi perempuan-perempuan berkerudung itu. Pergaulan mereka begitu akrab dan tampak begitu tulus.
Resepsi pernikahan berakhir menjelang pukul dua siang. Aku memang tetap berada di Balai Asri hingga acara resepsi pernikahan selesai, bukan saja karena aku ingin berjumpa dan melepas rindu dengan kawan-kawan lama sekuliah dulu, melainkan karena aku ingin lebih lama bercakap-cakap dengan Farida, meski aku selingi dengan obrolan dengan kawan-kawan lamaku yang hadir di resepsipernikahan itu.
Setelah berfoto dengan kedua pengantin dan berpamitan kepada mereka, aku bermaksud pulang, begitu pun Farida.
“Dik Ida, terima kasih atas nasihatnya tadi, ya. Saya senang sekali mendengarkannya. Sungguh,” kataku pada Farida ketika kami sama-sama berjalan menuju pintu keluar.
“Sama-sama. Tetapi tidak ada gunanya, kalau… kalau….”
“Kalau apa?”
“Kalau tidak Kakak jalankan.”
“Kakak mau menjalankannya, asal… asal Dik Ida membimbing Kakak. Dik Ida mau, kan?”
“Tak usah, ya!” Farida mencibir.
Aku rasa penolakannya itu tidak sungguh-sungguh.
“Kakak boleh berkunjung ke rumah Dik Ida, kan?” tanyaku.
“Boleh-boleh saja.”
“Untuk belajar salat dan mengaji.”
“Lho, kalau mau belajar salat dan mengaji di masjid ini saja. Ada kursusnya, kok.”
“Tapi Kakak ingin belajar di rumah Dik Ida, dan Dik Ida sendiri yang mengajari Kakak.”
“Hush, kurang baik. Kalau mau belajar di rumah saya boleh saja. Paling-paling yang mengajari Kakak nanti itu Ayah.”
Farida berjalan cepat. Aku berusaha menyamai langkah-langkahnya. Telah kuniatkan dalam hati, aku akan berkunjung ke rumah Farida. Apakah karena aku terpikat padanya, atau karena aku ingin belajar salat dan mengaji, atau karena dua-duanya. Entahlah.
“Kok seperti terburu-buru, Dik Ida? Pelan saja dong jalannya.”
“Belum salat, nih. Jadi harus cepat pulang. Saya lupa membawa mukena. Kalau saja membawa mukena, saya bisa salat di sini.”
“Kakak antarkan Dik Ida pulang, ya. Kakak kebetulan membawa kendaraan.”
“Terima kasih. Sudah ada orang yang menjemput. Tuh dia.”
Di pelataran sudah ada orang yang menunggu Farida, seorang lelaki yang berkendaraan skuter.
“Mari saya kenalkan dia pada Kakak,” kata Farida.
Tiba-tiba hatiku merasa kurang enak. Farida dan lelaki yang menjemputnya saling menyapa seraya tersenyum.
“Kak, kenalkan ini Mas Budi calon suami saya,” kata Farida memperkenalkan lelaki itu.
“Mas, ini Kak Joni, sahabat pengantin pria,” kata Farida menambahkan.
Aku dan lelaki itu bersalaman. Ia tersenyum, begitu pun aku. Aku merasa keramahtamahan dan ketulusan senyumku tidak bisa mengimbangi keramahtamahan dan ketulusan senyum lelaki itu.
Lelaki itu menghidupkan skuternya. “Sampai ketemu lagi ya, Kak. Jangan lupa salatnya lho,” kata Farida sebelum ia berlalu.
Aku mengangguk. Hampir berbarengan Farida dan calon suaminya itu permisi padaku.
“Assalamu’alaikum,” ucap Farida.
Aku hanya melongo. “Wa’alaikumussalam….” kataku dalam hati. (*)
PADA SUATU MUSIM SEMI, Kisah hati yang bermuara
Penulis : Deddy Mulyana
Sampul : Soft cover
Isi : Book paper/232Hal
Dimensi : 13.5×20.5cm
Penerbit: Khazanah Intelektual
Pemesanan: 08112202496
(Penerbitan cerpen fiksi Islami karya Prof. Deddy Mulyana ini ada kerja sama antara redaksi Avesiar.com dengan penerbit Khazanah Intelektual)













Discussion about this post